Wednesday, 12 August 2015

Pria Penghuni Neraka

Neraka adalah tempat pembalasan kaum durhaka dan pendosa, sungguh celaka dan malang betul nasib penghuninya berharap dapat ditebus dengan emas sebesar gunung, tapi semua itu tidak berguna.
Neraka yang menyala-nyala menggunakan bahan bakar dari batu dan manusia, panas membakar kulit hingga ke ulu hati, didalamnya hanya tersedia pakaian dari bahan Ter yang amat panas, sedangkan menu makanannya adalah buah Zaqqum yang bentuknya mirip kepala iblis. Jika buah ini jatuh ke bumi, niscaya hancur bumi beserta isinya.

Dan minumannya air mendidih yang akan melelehkan muka dan kerongkongan. Jurang-jurangnya dalam dan terjal , sebuah batu yang diluncurkan ke dalamnya baru akan sampai 70 tahun kemudian. Sungai-sungainya dari darah dan nanah busuk dan mendidih, dan penghuninya dinaungi awan hitam yang panas dan hembusan angin Samum yang juga berhawa sangat panas. Gaung suara neraka akan meraung geram kepada penghuninya, mereka akan dibelenggu dengan rantai besi membara, dipukul palu godam yang kekuatan pukulannya dapat meluluh lantahkan gunung menjadi debu, wajah-wajah penghuni neraka diseret diatas bara api sedang tangan mereka terikat.

Itulah neraka, yang disiapkan untuk jin dan manusia yang ingkar dan sombong dan durhaka. Penghuninya terdiri dari pria dan wanita. Jika dalam sebuah Hadist Rasulullah saw pernah menyampaikan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita bukan berarti para pria bisa tenang dan berleha-leha. Sungguh ada golongan pria yang juga harus menderita di neraka karena mengabaikan tanggung jawabnya terhadap wanita. Mereka yaitu pria-pria sebagai ayah yang tidak memperdulikan anak-anaknya atau sebagai suami yang tidak menjaga istrinya. Sebagai saudara yang tidak menjaga kehormatan saudarinya sepeninggal ayahnya dan seorang putra yang ayahnya telah sepuh tapi tidak merawat dan menjaganya dengan baik.

Golongan yang pertama mendapatkan ancaman masuk neraka adalah para ayah, yang tidak bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Ayah bukan hanya pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM yang mengeluarkan uang yang setelah itu selesai urusan, ayah bukanlah sosok asing yang bicara seperlunya atau berkata-kata bila murka. Ayah merupakan kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarga, istri dan putra-putrinya. tidak hanya bertanggung jawab terhadap makan dan minumnya, tapi juga pendidikan, ahlaknya dan keberhasilan dunia dan akhirat. inilah pesan Rasulullah dalam sabdanya:
Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka (HR.Muslim)
Sementara dalam Al-quran Allah telah menggariskan tugas setiap orang beriman 
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS-At-Tahrim:6)
Ayah merupakan benteng penjaga bagi para putra-putrinya dari perbuatan maksiat dan dosa, jangan sampai seorang ayah kehilangan kepekaan iman sehingga membiarkan anggota keluarganya larut dalam gelimang maksiat dan dosa atau yang lebih parah, ia sendiri yang justru menjerumuskan istri dan anak-anaknya.

Baca Juga : Malaikat Allah swt

Ada ancaman yang sangat berat bagi para ayah yang tidak peduli akan agama dan ahlak putra putri nya. seperti ayah yang tidak peduli dengan cara berpakaian anaknya, membiarkan auratnya terbuka dan menjadi pemandangan umum atau seorang ayah membiarkan anak-anaknya bedua-duaan dengan lelaki lain yang bukan muhrimnya. Para pria seperti ini dalam istilah agama islam disebut dayus dan dayus termasuk orang yang terancam tidak masuk surga. Jika surga dan menerima tentu neraka tempat kembalinya.

Tiga golongan yang Allah haramkan atas mereka : pecandu Khamr, durhaka kepada orang tua dan Dayus yaitu orang tidak cemburu ketika orang bermaksiat dengan keluarganya.(HR.Ahmad)
Golongan Kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka dan zhalim kepada istrinya. istri merupakan amanah yang telah dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu tentu rela melepaskan anak, saudara mereka karena ia yakin suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik. Pesan berbuat baik kepada wanita tidak saja menjadi harapan setiap wali tapi juga perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul dalam Al-Qur'an dan Sunnah 
...dan bergaullah dengan mereka secara baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka , maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak.(QS.Annisa:19)
Muhammad Rasyid Ridho dalam tafsir al-manaar mengatakan termasuk dalam bergaul yang baik yaitu baik dalam bertutur kata, baik dalam memperlakukannya, tidak bermuka masam jika bertemu demikian juga baik dalam nafkah. bergaul dengan baik berarti juga kesamaan dan kesetaraan artinya suami akan mendapatkan perlakuan baik jika suami juga memperlakukan istri dengan baik. bahkan suami diminta bersabar menahan diri dari kekurangan yang ada pada istrinya. juga ketika istri tidak melaksanakan kewajibannya dengan maksimal.

Janganlah seorang suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti menyukai akhlak lain darinya.(HR.Muslim)  

merupakan hak istri untuk mendapat nafkah dari suami nya baik itu pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan segala keperluan yang disesuaikan dengan kemampuan suami dan status istri.


Golongan pria ketiga yang terancam masuk neraka yaitu saudara laki-laki, sebab jika ayah telah tiada maka tanggung jawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada saudara lelakinya termasuk dalam hal ini Paman. jika mereka mementingkan keluarganya saja, sementara adik atau keponakannya dibiarkan jauh dari ajaran islam maka tunggulah ancaman neraka di akhirat kelak. 

saudara laki-laki mempunyai kewajiban yang melekat terhadap saudara perempuannya, mulai dari membimbing, mendidik, menyayangi , melindungi dan membela mereka, jika ayah telah wafat maka saudara laki-laki berperan sebagai pengganti ayah yang wajib memberikan nafkah kepada saudara perempuan yang belum menikah atau yang menjanda jika mereka tidak mampu. Saudara perempuan wajib mentaati dan menghormati saudara laki-lakinya, jika janda tersebut memiliki anak maka yang berkewajiban menafkahi anak tersebut adalah ayahnya, jika ayahnya telah wafat maka kakek dari ayah atau saudara dari ayah yang berkewajiban memberikan nafkah untuk janda-janda tersebut.

Rasulullah pernah bertanya kepada Jabir bin Abdullah 
Apakah kamu sudah menikah? Jabir menjawab "Ya". Beliau bertanya, "Gadis atau janda?" Jabir menjawab, "janda". Beliau bertanya lagi, "Mengapa kamu tidak menikahi gadis saja?" Kamu bisa bermain-main dengannya dan dia bisa bermain-main denganmu". Jabir memberikan alasan, "Wahai Rasulullah, Ayah kami telah wafat dan meninggalkan tujuh anak perempuan. saya menikah dengan seorang perempuan yang bisa mengurus saudara-saudara perempuanku".(HR. Bukhari dan Muslim)

  
Golongan pria yang keempat yang terancam masuk neraka adalah anak laki-laki 

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu bertanya,"Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku pergauli dengan sebaik-baiknya?" Sabdanya. "Ibumu", lalu ia bertanya, kemudian siapa?" Sabdanya, "Ibumu", kemudian bertanya, "siapa lagi?" Sabdanya "Ibumu". kemudian ia bertanya, "lalu siapa?" sabdanya, "Ayahmu." (HR.Bukhari Muslim)

Secara khusus islam menekankan hak ibu kepada anak laki-laki kandungnya. Mengapa terhadap anak kandung perempuannya tidak, karena setelah anak perempuan menikah ia lebih berhak mentaati suaminya dari pada ibunya, sedangkan anak laki-laki meskipun sudah menikah tidak mengurangi kewajibannya untuk berbakti kepada orang tuanya dan berbakti kepada ibu lebih didahulukan daripada kepada istrinya. Jadi pengabdian anak laki-laki kepada ibu kandungnya tidak putus, tetapi pengabdian anak perempuan lebih utama kepada suaminya, karena itu anak laki-laki lebih terikat kepada ibunya dibanding anak perempuan.

Laki-laki wajib menafkahi istri dan anaknya, dan juga wajib memperhatikan nasib ibu kandungnya. jika ibunya tidak mampu, kewajiban nafkahnya juga menjadi tanggung jawabnya. seorang istri juga harus menyadari bahwa suami juga punya kewajiban terhadap ibu kandungnya. maka, wahai para istri doronglah suami untuk lebih berbakti kepada ibunya.

"ada dua perbuatan dosa yang siksanya dipercepat didunia ini yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada ibu bapak."(HR. Bukhari dan Tirmizi)

Orang-orang yang berani durhaka kepada ibu bapaknya, Allah akan turunkan siksanya didunia ini tidak harus menunggu, menanti dialam kubur atau diakhirat. siksaan itu berbagai macam bentuknya, bisa masalah keluarga yang tidak kunjung selesai, anak-anak yang tidak bisa diarahkan, rizki yang tidak kunjung datang dan sebagainya. maka penting bagi anak laki-laki untuk memperhatikan ibu kandugnya, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya, jangan sampai tugas ini dilalaikan yang menjadi penyebab ia terjerumus ke neraka.



No comments:

Post a Comment